Bab 057: Siapa Kamu
Begitu perintah dari Gek Qianqian keluar, Gao Yu pun tak lagi ragu, langsung menyelipkan linggis ke sela pintu.
Pada saat itu, Li Xue yang berada di dalam gudang mendengar kegaduhan di luar, tubuhnya gemetar ketakutan hingga ke titik nadir. Suara linggis yang menggeretuk di pintu bagaikan cakar setan yang mengikis harapan, membuatnya benar-benar merasa terpojok dan tak berdaya.
Dalam kepanikan, Li Xue buru-buru kembali menghubungi kakaknya, Li Nan. Namun, setelah beberapa kali dering, telepon itu tak juga diangkat.
Tepat saat itulah, terdengar dentuman keras ketika pintu gudang didobrak hingga terbuka oleh tendangan Gao Yu dan teman-temannya.
“Dasar jalang kecil, mau lari ke mana lagi kau sekarang?!” maki Gek Qianqian dengan lantang.
Beberapa gadis langsung menyerbu masuk, mengepung Li Xue yang menggigil di sudut ruangan.
“Ah!” Li Xue menjerit saat rambutnya dijambak paksa oleh Gek Qianqian. Tubuhnya diseret kasar keluar dari gudang.
“Perempuan murahan, tadi bukannya genit sekali? Berani-beraninya menggoda pacarku! Sekarang kenapa diam saja!” Gek Qianqian melempar Li Xue ke lantai setelah menarik rambutnya.
“Aku tidak…” Li Xue menangis, berusaha membela diri.
Apa yang dikatakan Li Xue memang benar. Dia sama sekali tidak pernah menggoda pacar orang lain. Sejak kecil, ia selalu menjadi murid teladan yang patuh, bahkan belum pernah merasakan cinta.
Penyebab semua ini sebenarnya adalah pacar Gek Qianqian.
Pacarnya, Ding Hong, dengan latar belakang keluarga berada dan wajah tampan, menjadi idola banyak gadis di SMA Negeri Satu Longcheng. Ia terkenal suka berganti pasangan, dan belakangan ini ia berpacaran dengan Gek Qianqian.
Sebenarnya, Li Xue tak punya hubungan apa pun dengan mereka.
Namun pagi itu, Li Xue yang mengenakan pakaian baru pemberian Xue Ting, menarik perhatian banyak siswa di sekolah, termasuk Ding Hong.
Biasanya, penampilan Li Xue sangat sederhana, seperti seorang Cinderella yang suram. Namun hari ini, dengan pakaian mahal itu, ia tampak bagai putri bangsawan, auranya berlipat ganda. Wajah Li Xue memang cantik. Kini, ia seolah menjelma dari itik buruk rupa menjadi angsa putih yang memesona, bahkan membuat para gadis yang biasa dijuluki bunga kelas atau bunga sekolah jadi redup pesonanya.
Ding Hong, yang sebelumnya tak pernah memperhatikan Li Xue, hari itu pun terkesima dan mendekatinya untuk mengobrol. Tanpa disadari, hal itu dilihat langsung oleh Gek Qianqian.
Gek Qianqian pun yakin Li Xue sengaja menggoda pacarnya, hingga terjadilah semua ini.
Kini, rambut Li Xue acak-acakan, pakaian baru pemberian Xue Ting penuh debu dan bagian kerahnya robek, membuatnya tampak sangat menyedihkan. Di pipinya yang putih pun tampak bekas tamparan merah terang, hasil ulah Gek Qianqian tadi.
Namun, meski sudah seperti itu, Gek Qianqian dan teman-temannya belum juga puas.
“Masih berani bilang nggak goda pacarku? Hari ini dandan cantik-cantik, bukannya mau cari perhatian cowok? Dasar perempuan murahan!” Gek Qianqian menampar kepala Li Xue sambil memaki.
“Betul, kirain dengan pakaian bagus jadi apa? Dasarnya juga tetap perempuan jalang, pakai baju bagus pun tetap saja murahan!” Gao Yu menimpali.
“Pasti ibumu juga perempuan murahan, makanya bisa lahir anak kayak kamu! Anak haram, pasti hasil hubungan gelap!” Wajah Gek Qianqian yang biasanya cantik kini berubah menyeramkan.
“Aku bukan perempuan murahan, ibuku juga bukan… Jangan hina ibuku, hu hu…” Li Xue menangis pilu.
Plak! Satu tamparan keras lagi mendarat di pipi Li Xue.
“Aku bilang kau perempuan murahan, ya memang begitu! Anak perempuan jalang!” maki Gek Qianqian penuh kebencian.
“Benar, perempuan jalang! Dasar murahan!” beberapa gadis lain ikut mencaci.
Beberapa siswa laki-laki di samping mereka hanya menonton Li Xue yang tergeletak di tanah, tertawa penuh ejekan.
“Eh, Qianqian, kayaknya sudah cukup, deh,” ucap seorang laki-laki sambil tersenyum.
Laki-laki itu adalah Ding Hong, biang kerok dari semua masalah ini. Ia seolah tak merasa bersalah, malah menikmati persaingan para gadis demi dirinya, merasa sangat puas.
“Kenapa harus berhenti sekarang?” Gek Qianqian langsung membentak, “Ding Hong, jujur saja, kamu naksir perempuan murahan ini, ya?!”
“Mana mungkin!” Ding Hong buru-buru menyangkal. “Dia cuma pembantu kecil dari keluarga miskin, mana bisa dibandingkan dengan putri seperti kamu. Lagipula, dia juga belum pernah pacaran. Kalau disuruh tidur bareng pasti cuma jadi kayu, nggak ada serunya, hahaha…”
Mendengar itu, teman-teman laki-lakinya pun tertawa-tawa penuh nafsu.
“Jangan sok polos, pagi tadi aku lihat sendiri kamu senyam-senyum sama dia!” Gek Qianqian terus mendesak.
“Aku sudah bilang, dia yang datang duluan ngobrol sama aku, tanya warna favorit segala macam. Kamu tahu sendiri, aku orangnya susah nolak, jadi ya aku layani saja sebentar,” ucap Ding Hong, pura-pura tidak berdaya.
“Bukan, aku tidak begitu…” Li Xue tidak menyangka Ding Hong tega memfitnahnya.
“Masih berani menyangkal, dasar jalang!” Gek Qianqian memaki. “Hari ini aku akan bersihkan nama baik para gadis sekolah! Biar kau kapok! Kalian, pegang dia! Lihat saja, aku akan telanjangi perempuan murahan ini!”
Begitu perintah keluar, para gadis segera menahan erat tangan dan kaki Li Xue. Sementara Gao Yu serta Ding Hong dan teman-teman laki-laki mereka mengeluarkan ponsel, penuh semangat hendak merekam kejadian itu lalu menyebarkannya ke internet.
“Jangan! Tolong lepaskan aku!” Li Xue memohon dengan sekuat tenaga.
“Baru sekarang minta ampun? Sudah terlambat!”
Gek Qianqian mendengus, lalu langsung menarik kerah baju Li Xue, bersiap hendak merobek pakaiannya.
Ding Hong dan teman-temannya menahan napas, menunggu tontonan cabul itu terjadi.
Tiba-tiba, suara raungan mobil terdengar keras dari belakang.
Ding Hong dan kawan-kawannya menoleh, seketika terperanjat.
Sebuah mobil BMW tua yang penuh lecet melaju kencang ke arah mereka, sama sekali tak tampak berniat mengerem!
“Brengsek, lari!!”
Ding Hong dan Gek Qianqian pun langsung kocar-kacir, meninggalkan Li Xue sendirian tergeletak di tanah.
“Ciiit!” suara rem mendadak, BMW itu berhenti hanya dua meter dari Li Xue.
Pintu mobil terbuka, Li Nan yang berwajah gelap segera berlari menghampiri Li Xue.
Begitu melihat adiknya dengan rambut acak-acakan, pakaian kotor, dan pipi penuh bekas tamparan, hati Li Nan langsung terasa perih.
“Xiao Xue!” Li Nan buru-buru mengangkat tubuh adiknya.
“Uwaaa…” Li Xue melihat Li Nan di depannya, seolah menemukan pelampung penyelamat. Semua rasa takut dan terhina yang ia pendam meledak seketika. Ia langsung memeluk Li Nan dan menangis keras.
“Sudah, jangan menangis. Kakak di sini. Sudah, semuanya akan baik-baik saja…” Li Nan membelai lembut punggung adiknya, berusaha menenangkan.
Merasa tubuh adiknya gemetar ketakutan dan mendengar tangisnya yang memilukan, darah Li Nan serasa mendidih karena amarah.
Saat itu juga, Gek Qianqian, Ding Hong, dan kawan-kawan yang tadi lari tunggang-langgang mulai kembali mendekat.
“Sialan, siapa sih ini?!” Gek Qianqian memaki Li Nan.
Tadi mereka benar-benar ketakutan, kini justru marah besar.
Li Nan perlahan berdiri dan memandang Gek Qianqian dan kelompoknya dengan tatapan dingin membara.
“Lihat-lihat apa, hah?! Gue tanya, siapa lo?!” Gek Qianqian membentak keras.
“Siapa aku? Semua di sini manggil aku Ayah, kalian juga ikut panggil begitu!”