Bab 111 Aku Lebih Kaya daripada Ma, Orang Terkaya
Sejak tadi, perempuan kaya itu sudah memperhatikan rombongan Li Nan, terutama Shao Xiaotao yang dikelilingi banyak orang seperti seorang bintang.
Harus diakui, gadis kecil di hadapannya itu memang sangat cantik—benar-benar memiliki wajah seorang calon jelitawan.
Justru karena itulah perempuan kaya tersebut merasa iri kepadanya.
Melihat Shao Xiaotao yang mengenakan pakaian murah tetapi diperlakukan layaknya seorang putri kecil, lalu membandingkannya dengan putrinya sendiri yang mengenakan pakaian bermerek namun tetap tampak tak berguna, hati perempuan itu pun terasa semakin tidak seimbang.
Saat itu, sebuah pikiran penuh kejengkelan muncul di benaknya: Keluarga kami jauh lebih kaya. Lalu, mengapa putriku tidak secantik dia?
Perempuan kaya itu tidak senang, dan dia juga tidak rela melihat orang lain bersenang-senang!
Kedua meja mereka memang berdempetan, sehingga semua ucapan perempuan itu terdengar jelas oleh Li Nan, Shao Xiaotao, dan yang lainnya.
Dalam sekejap, suasana di meja mereka menjadi sangat canggung.
Wajah Shao Chen, Du Shan, dan yang lainnya tampak buruk.
Li Nan pun mengernyitkan dahi. Hatinya dipenuhi amarah, bahkan dia nyaris berdiri untuk memaki perempuan kaya itu habis-habisan.
Sementara itu, Shao Xiaotao menunjukkan ekspresi sangat sedih. Air mata bening menggenang di pelupuk matanya dan sewaktu-waktu bisa jatuh.
Shao Xiaotao benar-benar tidak mengerti. Mengapa dirinya hanya karena makan di luar saja harus dihina oleh orang-orang asing? Memang, keadaan keluarganya dan keluarga Kak Li Nan tidak terlalu baik, tetapi lalu kenapa? Mereka tidak pernah melakukan kejahatan apa pun. Mengapa masih ada orang yang menganggap mereka lebih rendah?
Bukankah semua orang bisa menjadi sahabat baik dan hidup berdampingan dengan damai di dunia ini?
Shao Xiaotao sungguh tidak dapat memahaminya. Apakah beginilah dunia orang dewasa?
Melihat mata Shao Xiaotao yang berkaca-kaca, hati Li Nan pun terasa pilu.
“Xiaotao, terkadang kita tidak perlu terlalu memikirkan ucapan orang lain. Sebab, semakin sering orang dewasa memamerkan sesuatu, biasanya justru semakin besar kekurangan mereka dalam hal itu,” ujar Li Nan sambil tersenyum.
Suara Li Nan tidak kecil. Tentu saja, dia sengaja mengucapkannya agar perempuan kaya itu mendengarnya.
Benar saja, setelah mendengar ucapan tersebut, perempuan itu merasa malu sekaligus marah. Wajahnya memerah karena emosi.
Namun, Li Nan tidak menyebut nama siapa pun. Jadi, meskipun marah, dia tidak bisa membalas. Jika dia melakukannya, bukankah itu berarti dia mengakui bahwa ucapan tersebut ditujukan kepadanya?
“Benarkah?” Shao Xiaotao mengedipkan matanya, tampak sangat penasaran.
“Tentu saja. Lihat saja Kak Wang Gendut. Setiap hari dia memamerkan di media sosial bahwa berat badannya turun beberapa kilogram, tetapi sampai sekarang masih saja segemuk itu.”
“Pfft, hahaha! Benar juga, ya! Hahaha...” Shao Xiaotao langsung tertawa geli.
Wang Gendut melirik Li Nan dengan tatapan panjang dan penuh arti, jelas-jelas menyalahkannya karena menjadikan dirinya bahan lelucon. Namun, selama pengorbanannya bisa membuat Xiaotao bahagia, dia tetap rela.
“Sudahlah. Xiaotao kita tidak seperti Wang Gendut. Mau makan sebanyak apa pun, dia tidak akan gemuk. Jadi, hari ini kita makan yang banyak,” ujar Li Nan, memanfaatkan kesempatan itu.
“Tapi, Kak Li Nan bukankah harus mengeluarkan banyak uang?” Wajah Shao Xiaotao kembali menunjukkan ekspresi tidak tega.
Li Nan tersenyum tipis. “Kenapa? Kakak belum memberitahumu?”
“Memberitahuku apa?” tanya Shao Xiaotao penasaran.
“Bahwa belakangan ini Kakak tidak sengaja mendapatkan rezeki besar. Mulai sekarang, Kak Li Nan juga sudah bisa dianggap orang kaya!” kata Li Nan dengan bangga, tentu saja untuk menenangkan hati Xiaotao.
“Benarkah? Sekaya apa? Apakah lebih kaya daripada Ma, orang terkaya itu?” Shao Xiaotao membelalakkan matanya yang jernih dan bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Kurang lebih seperti itu,” jawab Li Nan dengan wajah penuh kebanggaan.
Daftar orang terkaya versi majalah terkenal itu memiliki terlalu banyak keterbatasan. Jika semua yang dikatakan kakeknya memang benar, keluarga Chen mereka jelas jauh lebih kaya daripada Ma, orang terkaya tersebut.
Li Nan tidak sedang membual. Namun, begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, perempuan kaya di sebelah mereka justru tertawa terbahak-bahak.
“Anak-anak muda zaman sekarang benar-benar tidak tahu seberapa tinggi langit dan seberapa dalam bumi. Hahaha...” Perempuan kaya itu jelas sedang menertawakan Li Nan.
Li Nan sama sekali tidak memedulikannya. Dia menoleh kepada Shao Xiaotao dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Kenapa? Kamu tidak percaya?”
“Aku percaya! Tentu saja aku percaya kepada Kak Li Nan!” Shao Xiaotao selalu mempercayai ucapan Li Nan tanpa sedikit pun keraguan.
“Kalau begitu, Kakak akan membelikan makanan lagi. Bagaimana kalau kita pesan enam paket ayam keluarga?”
“Benarkah? Kak Li Nan memang yang terbaik! Aku mau makan, aku mau makan!” Shao Xiaotao begitu gembira sampai hampir melompat.
Mendengar ucapan Li Nan, mata putri gendut perempuan kaya itu pun berbinar.
“Ma, bukankah mereka sangat miskin? Kalau begitu, kenapa mereka mampu makan paket ayam keluarga? Aku juga mau! Aku juga mau makan!” Gadis gendut itu mulai merengek.
“Sayang, kamu sudah makan tiga hamburger. Mana mungkin masih sanggup makan sebanyak itu? Kita makan lain kali saja, ya?”
“Tidak mau, tidak mau! Mereka yang tidak punya uang saja bisa makan, aku juga harus makan! Aku mau makan!” Gadis gendut itu membuka mulut lebar-lebar dan tampak hendak menangis.
“Anak ini!” Perempuan kaya itu benar-benar dibuat kesal.
Pada saat itu, pintu restoran cepat saji tersebut terbuka dan belasan orang masuk ke dalam.
Di antara mereka terdapat lima atau enam laki-laki yang mengenakan pakaian agak lusuh dan berlumpur. Penampilan mereka seperti buruh bangunan. Sisanya adalah istri dan anak-anak mereka.
Mereka memang para pekerja bangunan dari proyek di sekitar sana. Kebetulan, mereka juga berasal dari desa yang sama.
Hari itu, para istri mereka menumpang bus antarkota dari daerah asal dan membawa anak-anak untuk mengunjungi mereka.
Karena merupakan pertemuan keluarga setelah sekian lama, ditambah lagi anak-anak jarang sekali datang ke kota, suasananya pun sedikit ramai.
“Jadi, ini restoran cepat saji yang sering dibicarakan orang itu? Selama ini aku hanya sering mendengar namanya, tetapi tidak pernah sempat masuk untuk melihat-lihat,” kata salah seorang pria dengan riang.
“Bukankah ini cuma ayam goreng? Apa enaknya?” ujar pria lain dengan bingung.
“Anak-anak ini sudah merengek ingin makan di sini sejak dalam perjalanan. Mau bagaimana lagi?” seorang perempuan berkata tak berdaya.
“Ayah, kami ingin makan di sini!” seru seorang anak.
“Benar, di kelas kami banyak teman yang sudah pernah makan di sini. Hanya kami yang belum pernah. Kami juga ingin mencobanya!”
“Ayah, belikan kami makanan, ya!”
Beberapa anak menatap orang tua mereka dengan penuh harap.
“Baiklah, baiklah. Kalau ingin makan, makan saja. Ayah belikan!” Karena tidak tahan melihat antusiasme anak-anaknya, pria itu akhirnya mengalah.
“Yeay!”
“Hebat!”
“Akhirnya kami bisa makan di sini!”
Anak-anak itu bersorak penuh kegembiraan.
“Mbak, hamburger yang itu harganya berapa?” Pria tersebut mendatangi meja kasir dan bertanya.
“Itu hamburger raksasa, harganya dua puluh tiga ribu rupiah satu.”
“Apa? Dua puluh tiga ribu? Mahal sekali!”
Pria itu terkejut.
Setelah bekerja keras seharian, penghasilannya hanya sedikit lebih dari seratus ribu rupiah. Untuk sekali makan, biasanya dia bahkan tidak menghabiskan lima ribu rupiah. Namun, satu hamburger saja harganya dua puluh tiga ribu—lebih mahal daripada biaya makan sehari penuh!
“Kalau yang itu?”
“Itu burger daging sapi tebal dengan daging asap, harganya tiga puluh dua ribu rupiah.”
“Kalau yang itu?”
“Oh, itu kotak ayam, harganya tujuh puluh sembilan ribu rupiah satu paket.”
Pria itu bertanya tentang beberapa menu lainnya, tetapi semuanya jauh melampaui perkiraannya. Sekali makan untuk seluruh keluarga, sedikitnya dua ratus ribu rupiah akan habis. Itu berarti upahnya hari itu bekerja sia-sia!
“Sudahlah, tidak jadi makan. Di proyek kami, roti berisi daging saja hanya tiga ribu rupiah. Di sini harganya sampai tiga puluh ribuan. Lebih baik kami makan roti daging di proyek saja.”
Begitu mendengar perkataan itu, beberapa anak langsung memasang wajah murung.
“Ayah, bukankah Ayah tadi bilang akan mentraktir kami?”
“Benar, kami ingin makan di sini!”
“Teman-teman kami sudah pernah makan. Kami juga mau mencoba... hiks...”
Anak-anak itu serentak mulai menangis.
Melihat keadaan tersebut, para pria dan istri mereka pun menjadi kebingungan.
Jika mampu, orang tua mana yang tidak ingin memenuhi keinginan anak-anaknya? Namun, sekali makan saja bisa menghabiskan upah sehari penuh. Terlebih lagi, uang itu masih mereka perlukan untuk membayar biaya sekolah anak-anak dan merawat orang tua. Karena itu, mereka benar-benar merasa berat hati.
Pada saat itu, perempuan kaya tadi menatap para buruh bangunan tersebut dengan penuh penghinaan.
“Orang-orang kampung seperti mereka memang hanya pantas makan roti daging! Tidak mampu makan, tetapi malah datang ke sini dan berisik. Benar-benar mengganggu!” dengusnya.
“Benar! Tempat umum melarang orang membuat keributan. Apa kalian orang kampung tidak mengerti? Benar-benar tidak punya tata krama!” Putri gendut di sampingnya juga berteriak tidak sabar kepada para buruh tersebut.