Bab 31: Panggilan Telepon
Musim panas di utara selalu diwarnai udara yang kering dan keruh, bahkan anginnya pun tak membawa kelembapan, membuat para pelajar hanya ingin berdiam di dalam ruangan. Namun, Li Xiyuan justru harus sering mondar-mandir di kampus akhir-akhir ini karena tugas-tugas yang diberikan gurunya.
Karena sudah terbiasa sejak lama, Li Xiyuan hingga kini belum pernah mengenakan pakaian bertali atau celana pendek, sama sekali berbeda dengan gadis-gadis seusianya yang demi tampil seksi atau terasa sejuk rela mengurangi lapisan pakaian. Ia tetap mengenakan celana panjang atau rok panjang setiap hari, atasan paling-paling hanya berlengan pendek, dan sepasang sepatu kanvas di kakinya, sehingga banyak orang di sekitarnya menganggapnya terlalu konservatif.
Li Xiyuan pun menjelaskan pada mereka bahwa tubuhnya kurang sehat, cenderung dingin, sehingga suhu badannya tetap rendah meski di musim panas. Melihat wajahnya yang bersih dan segar, orang-orang pun bisa memakluminya.
Ouyang Qing sudah mulai magang, sehingga banyak materi yang harus Li Xiyuan cari sendiri di perpustakaan, mencatat, lalu malam harinya di asrama ia kembali merapikan dan mengulanginya. Melihat kegigihan Li Xiyuan yang seperti ingin menjadi juara kelas, Meng Zhimin pun tergerak untuk belajar lebih giat dan terus maju. Memang benar, dekat dengan orang baik akan terbawa baik, dekat dengan yang buruk akan terpengaruh buruk; pepatah itu memang ada benarnya.
Karena belajar hingga larut, setelah selesai membersihkan diri, Li Xiyuan mendapati semua orang sudah tidur. Ia pun naik ke tempat tidur dengan sangat hati-hati, baru saja hendak beristirahat, ponselnya tiba-tiba berdering. Ia buru-buru mengambilnya dan melihat nama 'Shangguan Yumo'. Karena sudah larut malam, ia pun langsung menutup telepon itu.
Saat ia sudah berbaring dan hendak mematikan ponsel untuk tidur, telepon itu kembali berdering. Tak ada pilihan lain, ia pun mengangkatnya dan berbisik, "Halo, Tuan Muda Shangguan, kau tahu sekarang sudah tengah malam, kan? Mengganggu orang tidur di zaman sekarang bisa kena kutukan, lho."
Dari seberang telepon terdengar suara berat dengan sedikit nada magnetis, "Dari suaramu, kau belum tidur! Lalu kenapa tadi tidak angkat teleponku?"
Li Xiyuan terdiam sejenak, lalu langsung bertanya, "Kau menelepon ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, hanya memanfaatkan waktu istirahat untuk menelponmu, ingin tahu kau sudah tidur atau belum." Nada bicaranya di telepon tetap saja semena-mena, seolah benar sendiri.
"Kalau tidak ada apa-apa, aku tutup saja ya, aku mau tidur, dadah!" Setelah berkata begitu, ia langsung menutup telepon tanpa menunggu balasan darinya. Namun, di dalam hati ia merasa aneh. Beberapa bulan lalu memang nomornya sudah disimpan oleh pria itu, tapi ia pikir tak akan ada hubungan lagi. Tak disangka, pria itu tiba-tiba menelepon di waktu seperti ini. Sebenarnya, apa yang diinginkan orang ini?
Meski dulu pernah diingatkan oleh Fang Wenzhe, tapi ia sendiri tak merasa bahwa pria itu akan tertarik padanya. Bukan karena kurang percaya diri, tapi pria seperti dia, begitu penuh perhitungan dan wibawa, seharusnya tak akan repot dengan urusan cinta... Ah, sudahlah, tak perlu dipikirkan lagi, lebih baik tidur!
――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――
"Bos, hehe... Menelepon pacar, ya?"
"Iya, Bos, beberapa hari ini kami lihat kau sering menatap ponsel, rupanya menunggu telepon pacar! Jarang sekali, sungguh jarang!"
"Benar, biasanya Bos tak pernah pedulikan para wanita di markas, sama sekali tak acuh, entah berapa hati wanita cantik sudah dibuat kecewa. Rupanya sudah ada yang punya, kapan-kapan bawa kakak ipar ke sini, dong!"
Shangguan Yumo teringat wanita itu malah menutup telepon darinya begitu saja, sungguh keterlaluan. Mendengar olok-olok anak buahnya, wajahnya jadi makin kelam, lalu berkata pada mereka, "Saat bertugas, kurangi bicara, fokus bekerja!"
Melihat wajah pemimpin mereka yang gelap, mereka pun langsung diam, tapi saling bertukar pandang dengan tatapan penuh tawa.
――――――.
Keesokan harinya, Fang Wenzhe yang sudah beberapa waktu tak bertemu menghubungi Li Xiyuan, mereka pun janjian bertemu di kafe yang sama seperti sebelumnya.
Suasana tetap sama, kursi yang sama, bahkan Fang Wenzhe masih memesankan segelas jus favoritnya. Namun, orangnya tampak sedikit berbeda. Dibandingkan pemuda kuat dan ramah dalam ingatannya, kini di matanya tampak ketajaman dan hawa dingin.
Setelah melihat Li Xiyuan, ia tersenyum padanya, menghapus sejenak dingin di matanya, "Sudah datang! Nih, jus kesukaanmu!"
Beberapa bulan terakhir ini ia memang tak pernah bertemu laki-laki itu di kampus. Fakultas Kedokteran dan Fakultas Bisnis letaknya cukup jauh, kadang saat bertemu di perpustakaan pun hanya sekilas, meski tetap berkomunikasi lewat telepon. Tapi begitu bertemu, Li Xiyuan baru sadar, dalam beberapa bulan saja, Fang Wenzhe sudah banyak berubah.
"Akhir-akhir ini sibuk? Urusan keluarga atau perusahaan?" tanya Li Xiyuan.
Fang Wenzhe tersenyum, "Tidak terlalu. Aku baru saja masuk perusahaan, perusahaan masih dipegang paman dan sepupuku, jadi tugasku hanya pekerjaan sepele. Soal keluarga, selama Kakek masih mengawasi, mereka takkan berani macam-macam."
Mendengar penjelasannya, Li Xiyuan tahu kalau keadaannya tidak terlalu baik, "Jadi sekarang kau sibuk apa? Kini kau hanya didukung Kakek Fang, tapi beliau juga sudah setengah pensiun, kau sendirian harus pelan-pelan melangkah."
Fang Wenzhe mengangguk setuju, dengan semangat berkata, "Benar, sekarang aku tak punya uang dan kekuasaan, meski sudah ditetapkan sebagai pewaris keluarga Fang, tapi di perusahaan tak ada yang menganggapku. Jadi aku berencana dengan beberapa teman mendirikan perusahaan baru, mengumpulkan kekuatan, lalu merebut kembali perusahaan!"
Mendengar rencana Fang Wenzhe, Li Xiyuan bertanya lagi, "Beberapa bulan ini kau sibuk dengan itu? Meski aku tak terlalu paham bisnis, intinya tetap soal modal dan relasi. Untuk modal, kalau kau minta dari keluarga Fang, bukankah itu akan membuat mereka curiga?"
"Perusahaan lama di Kota H, setelah ayahku meninggal, ibuku menunjuk manajer profesional untuk mengelolanya. Kini kepemilikannya di tanganku. Aku berencana menjual perusahaan itu, lalu menanamkan modalnya ke perusahaan baru. Kami bertiga bekerja sama; satu adalah kakak tingkat yang sangat berbakat, satu lagi temanku sendiri. Kakak tingkat itu punya banyak relasi dan bisnis, temanku punya latar belakang pejabat, aku sendiri mengurus manajemen di balik layar..."
Kemudian Fang Wenzhe dengan rinci menceritakan rencana perusahaan mereka pada Li Xiyuan, dan mengatakan suatu saat nanti ia akan mengenalkan rekan-rekan bisnisnya padanya.