Bab 26: Kakak Senior
Meng Zhiming merasa sedikit khawatir sekaligus penasaran terhadap Li Xiyuan, lalu bertanya padanya, "Xiyuan, kenapa kamu marah? Ini pertama kalinya aku melihatmu kehilangan kendali. Sebenarnya ada apa?"
Mendengar pertanyaan itu, Li Xiyuan pun menyadari bahwa emosinya memang agak berlebihan. Selama ini, ia tak pernah menunjukkan kemarahan di depan orang lain. Di istana dulu, bersikap seperti ini sangat mudah menjadi celah bagi orang lain. Sepertinya, di masyarakat saat ini ia benar-benar sudah menurunkan kewaspadaan dan terbiasa dengan hidup yang damai dan sederhana. Namun, pepatah mengatakan bahwa kelengahan lahir dari kenyamanan—menghadapi keluarga-keluarga terpandang, ia harus selalu berjaga-jaga. Sekarang, ia belum punya kekuasaan atau posisi yang cukup—jika salah langkah, bisa-bisa keluarganya pun ikut terlibat!
Melihat sikap lelaki itu tadi, sepertinya ia tidak akan menyerah semudah itu. Harus segera membuat persiapan. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mencari tahu latar belakang orang itu—hanya dengan memahami lawan barulah bisa memenangkan pertarungan. Li Xiyuan mengatur napas, menenangkan diri, lalu menjawab pertanyaan Meng Zhiming, "Tidak ada hal besar, aku saja yang terlalu emosional, hanya sedikit gesekan kecil. Zhiming, aku lihat kamu juga kenal mereka, siapa sebenarnya dua orang itu?"
"Oh, dua orang itu yang pernah aku ceritakan padamu. Mereka teman masa kecil kakakku. Tapi, keluarga Mo—yang satunya itu—jauh lebih berpengaruh daripada keluargaku. Mereka itu keluarga nomor satu di negeri ini, menguasai militer, pemerintahan, dan bisnis. Dia sendiri kabarnya memegang jabatan penting, jarang sekali terlihat di lingkungan kita. Hari ini benar-benar langka sekali!"
Mendengar latar belakang orang itu, Li Xiyuan tidak bisa menahan diri untuk mengerutkan kening. Ia merasa masalah ini cukup rumit dan harus segera memikirkan strategi yang matang...
Meng Zhiming melihat Li Xiyuan yang tampak serius dan sedang berpikir, lalu berkata, "Xiyuan, apa yang sedang kamu pikirkan?" Hari ini, Xiyuan terasa benar-benar berbeda.
Tapi bukankah pepatah mengatakan, bila tentara datang, kita lawan; bila air datang, kita bendung. Kalau kapal sudah sampai di jembatan, pasti akan menemukan jalan! Lebih baik hadapi saja nanti, satu per satu. Setelah tersadar, ia kembali berkata, "Tidak apa-apa, Zhiming, aku..." Sambil menggandengnya, Li Xiyuan mulai bercerita tentang kejadian lucu saat latihan menembak hari ini.
――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――
Li Xiyuan sedang membaca buku kedokteran tradisional di perpustakaan, ketika tiba-tiba ada secarik kertas kecil yang didorong ke arahnya. Ia agak heran, lalu menoleh ke arah sana. Ternyata, seorang lelaki dengan senyum cerah dan tulus melambaikan tangan padanya, lalu menunjuk kertas di tangannya. Mengerti maksudnya, ia pun membuka kertas itu, yang bertuliskan, "Hai, adik seperguruan! Kata guru, kamu adik baruku. Aku Ouyang Qing, kakak tingkatmu. Salam kenal o(n_n)o!"
Melihat pesan itu, Li Xiyuan membalas dengan senyuman, lalu menutup bukunya dan menunjuk ke luar. Setelah Ouyang Qing mengangguk tanda paham, ia pun berpamitan pada tiga teman sekamarnya.
Ketiga temannya melihat interaksi mereka berdua, dan sekadar mengangguk tanda mengerti, tapi Liang Xue malah menatapnya dengan senyum penuh makna, seolah-olah mengisyaratkan sesuatu.
Keduanya duduk di koridor luar perpustakaan. Ouyang Qing memperkenalkan diri dengan resmi, "Adik seperguruan, aku Ouyang Qing, mahasiswa tingkat empat jurusan klinis gabungan kedokteran timur dan barat. Mendengar guru akhirnya menerima seorang murid perempuan, aku benar-benar senang! Jadi, aku sengaja mencari tahu tentangmu. Ternyata benar, lebih baik bertemu langsung, kamu memang gadis klasik yang anggun!"
Untuk pertama kalinya, Li Xiyuan berhadapan dengan seseorang yang begitu jernih dan polos. Mata lelaki itu sangat bening, tanpa sedikit pun cela, tawanya lepas dan ceria, ada sedikit kekaguman yang tulus sehingga Li Xiyuan pun merasa senang dan tanpa sadar merasa nyaman serta dekat padanya.
"Haha, kakak, aku tidak sebaik yang kamu bayangkan! Tapi aku juga sangat senang bisa bertemu denganmu hari ini. Sebenarnya dalam beberapa hari ini aku memang berencana mencarimu!"
"Benarkah? Ini yang namanya hati yang saling berhubungan!" katanya sambil berkedip nakal, membuat suasana menjadi sangat hangat.
Hari itu langit begitu cerah, sinar matahari mengusir dingin lembab awal musim semi. Pohon-pohon di pinggir jalan kampus mulai menghijau, bunga-bunga bermekaran, burung-burung bebas beterbangan di langit. Seorang gadis muda berdiri di bawah cahaya mentari, dikelilingi bunga-bunga, wajahnya ceria dan tersenyum. Ouyang Qing sampai melongo memandangnya—benar-benar secantik putri salju, lebih cantik dari bunga, membuat jantungnya berdebar-debar.
Melihat kakak seperguruannya menatap dengan mata berbinar dan terpana, Li Xiyuan jadi sedikit malu. Ia berdeham, lalu bertanya, "Kakak, aku dengar dari guru bahwa kamu akan segera magang, kapan kamu berangkat? Aku ingin bertanya beberapa hal padamu sebelum itu."
Ouyang Qing tersadar ketika Li Xiyuan menyebut magang, lalu menjawab, "Dua bulan lagi, di Rumah Sakit Pendidikan Pertama Universitas Q jurusan pengobatan tradisional. Kalau ada yang kamu tidak mengerti, datang saja padaku. Nomorku... silakan telepon aku kapan saja!"
"Terima kasih, kakak! Tapi, bisa magang di Rumah Sakit Pendidikan Pertama Universitas Q itu hebat sekali! Itu rumah sakit pengobatan tradisional terbaik di seluruh negeri. Walaupun itu milik fakultas kita, tapi hanya mahasiswa terbaik yang boleh magang di sana!"
"Haha, biasa saja. Tapi kata guru, kamu lebih berbakat dari kami semua. Aku yakin masa depanmu pasti cerah!" Mendengar pujian Li Xiyuan, Ouyang Qing menggaruk kepala sambil tersenyum bodoh, hatinya terasa manis.
_---------------------------------------------------------------------------------------------――------
Ketika Liang Xue melihat Li Xiyuan masuk ke kamar, ia langsung merebut buku dari pelukannya dan meletakkannya di meja. Ia pun mendorong Li Xiyuan ke kursi dan bersama dua teman yang lain duduk di depannya, seolah-olah sedang melakukan sidang pengadilan, dengan ekspresi pura-pura serius bertanya, "Saudari Li Xiyuan, jujurlah maka keringanan hukuman, melawan akan diperberat. Silakan laporkan kepada komite kamar tidur, siapa laki-laki yang bersamamu di perpustakaan hari ini?"
Melihat semua itu, Li Xiyuan tertawa, lalu langsung duduk tegak dan bertanya, "Sejak kapan kamar kita punya komite? Kenapa aku tidak tahu? Siapa anggotanya? Masa dari empat orang, aku tidak termasuk? Aku protes, pemilihan tidak adil!"
Meng Zhiming dan Xu Mingwan tertawa mendengar ucapannya, tapi Liang Xue melotot tajam hingga mereka buru-buru diam dan kembali serius.
"Tolong jangan mengalihkan topik, Saudari Li Xiyuan! Cepat akui, kalau tidak, kami akan menyiksamu!" katanya sambil bersama Meng Zhiming dan Xu Mingwan mendekat dengan tawa licik, bersiap menggelitikinya.
Li Xiyuan sejak kecil tidak takut sakit atau susah, hanya takut geli. Setelah tiga teman sekamarnya tahu kelemahan ini, mereka selalu menggunakannya untuk mengancam setiap kali ada urusan. Melihat tiga orang itu bersiap-siap, ia langsung menjawab, "Lapor kepada para anggota komite, aku mengaku, tolong bebaskan aku dari hukuman."
"Hmm, bagus, lanjutkan!"
"Itu adalah senior Ouyang Qing, mahasiswa jurusan klinis gabungan kedokteran timur dan barat, murid Profesor Zhang! Dia hanya menyampaikan pesan dari Profesor Zhang. Aku baru pertama kali bertemu dengannya, sebelumnya belum pernah!" Li Xiyuan tidak ingin hubungan guru-muridnya diketahui orang banyak. Kalau Liang Xue tahu, setengah kelas pasti akan tahu, bahkan seisi fakultas pun bisa mendengar. Itu terlalu mencolok, jadi ia memilih jawaban yang aman.
"Jadi itu Ouyang Qing! Dia memang terkenal di fakultas kita. Orang tuanya dokter bedah di RS kota B, sejak kecil sudah akrab dengan kedokteran barat, tapi kuliah malah pilih kedokteran timur. Hebatnya lagi, ia sangat berbakat, makanya diterima jadi murid Profesor Zhang. Kabarnya juga sangat tampan. Hari ini ternyata memang cowok ceria dan menawan!"
"Masa sih, Xue? Kamu ini seperti polisi, semua data tahu!" Meng Zhiming benar-benar tak menyangka Liang Xue seperti pusat informasi berjalan.
"Benar, kamu kalau di zaman dulu pasti jadi kepala intelijen!" Li Xiyuan pun memandangnya dengan kagum.
"Haha, kalian lupa siapa Xue sebenarnya? Dia itu lebih hebat dari ketua PKK kelurahan, semua gosip di fakultas pasti dia tahu!"
Liang Xue melotot pada Xu Mingwan yang mengejeknya sebagai ketua PKK, lalu bertolak pinggang dan berkata keras, "Baiklah, Wanwan, kamu ternyata ikut-ikutan mengejekku, malah bilang aku ketua PKK. Akan kuurus kalian bertiga, lihat jurus gelitiku!"
Tiba-tiba ketiganya berlarian menghindar, kamar pun dipenuhi gelak tawa dan canda...