Bab Dua Puluh Tujuh: Tiga Sekawan Pelahap
Saat Xi Jingfei menyadari akunnya sedang masuk, ia langsung menebak bahwa kakaknya sedang menggunakan akun tersebut untuk menonton siaran langsung. Namun, ia tidak menyangka kakaknya akan menghabiskan uang sebanyak itu, mengingat biasanya sang kakak hanya memberikan sedikit hadiah sebagai hiburan.
Xi Jingcheng menjawab dengan tenang, "Kenapa? Aku hanya memakai sedikit uangmu, apa kau merasa sayang?"
"Kak, kau menuduhku. Mana mungkin aku berani? Bukankah uang sakuku pun berasal darimu? Kau mau pakai berapa pun tidak masalah. Hanya saja, aku tidak menyangka kau akan memberi hadiah sebanyak itu kepada seorang penyiar. Aku hanya penasaran saja."
Xi Jingfei tentu tidak berani melarang kakaknya menggunakan akun miliknya untuk memberi hadiah kepada orang lain. Seperti yang ia katakan, uang sakunya adalah pemberian sang kakak, jadi bagaimana mungkin ia mengeluh hanya karena sedikit uang yang dihabiskan. Ia hanya merasa penasaran, apa sebenarnya yang membuat penyiar itu menarik perhatian kakaknya.
"Sudahlah. Uang yang kupakai untuk memberi hadiah akan kutransfer kembali padamu nanti. Kalau kau ingin tahu tentang penyiar itu, tunggu saja dia siaran dan tonton sendiri."
Xi Jingcheng teringat sesuatu dan menambahkan, "Oh ya, penyiar itu akan mengirimkan tanaman padaku. Aku sudah memberikan alamatmu padanya, jadi tolong bantu aku menerimanya dan bawa pulang nanti."
"Baik, Kak."
Ia pun pernah melihat riwayat percakapan mereka, tetapi apakah tanaman itu benar-benar nyata? Xi Jingfei sangat penasaran. Meskipun ia pernah melihat tanaman hijau asli sebelumnya, ia tetap sangat menantikan untuk melihatnya secara langsung.
"Sudah dulu, aku tutup."
Paket yang dikirimkan oleh Chu Qingyan segera tiba di alamat tujuan, dan Xi Jingfei pun menandatangani penerimaannya.
"Hai, Jingfei, apa yang kau beli?"
"Cepat tunjukkan pada kami!"
Teman-teman yang menemani Xi Jingfei mengambil paket melihat bungkusan yang sangat rapi itu dengan tatapan penasaran. Xi Jingfei sendiri sangat ingin memastikan apakah paket itu berisi tanaman asli atau tiruan, sehingga ia segera membuka kemasannya dengan tidak sabar.
Seketika, aroma segar khas tanaman menyeruak dari dalam bungkusan.
"Hah? Kenapa baunya sangat harum?"
"Jingfei, di mana kau membeli tanaman tiruan ini? Benar-benar mirip dengan aslinya, bahkan baunya pun ditiru?"
Teman di sampingnya menatap tanaman di dalam paket dengan mata berbinar. "Aku belum pernah melihat tanaman jenis ini, bahkan ada buah yang menggantung di atasnya."
Sebuah tangan terulur dari samping, hendak menyentuh tanaman tersebut, namun Xi Jingfei segera menghindar. Ia merasa sangat bersemangat. Karena pernah bersentuhan dengan tanaman asli, ia tentu bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Menahan rasa antusiasnya, ia merapikan kembali bungkusan itu dan mencegah orang lain untuk mengamatinya lebih jauh.
"Jingfei, kenapa kau pelit sekali? Bukankah itu hanya tanaman tiruan? Sampai-sampai kau menjaganya seperti harta karun dan tidak membiarkan siapa pun menyentuhnya."
"Benar sekali, apa kita masih bersaudara? Perlu sekali bersikap waspada pada kami? Aku tidak akan merebutnya darimu. Beritahu saja di mana kau membelinya, biar aku juga beli satu."
Bukan masalah harga, mereka pun mampu membelinya, dasar pelit! Toh, berapa mahal sih harga tanaman tiruan?
"Ini bukan tanaman tiruan."
"Hah? Kalau bukan tanaman tiruan, lalu apa? Jangan bilang ini tanaman hijau sungguhan!"
Melihat temannya menatapnya dengan pandangan misterius tanpa berkata apa-apa, Lin Zheng berkata dengan terkejut, "Sial! Ini asli!"
"Pelankan suaramu, apa kau ingin semua orang memperhatikan kita?" Xi Jingfei membekap mulut temannya, lalu menoleh ke sekeliling dengan waspada. Setelah memastikan tidak ada orang yang memperhatikan mereka, ia baru bisa menghela napas lega.
Lin Zheng sadar ia telah bersikap berlebihan, namun siapa yang bisa tetap tenang setelah mengetahui kabar tentang tanaman asli?
Di sisi lain, Jiang Sinian belum bisa pulih dari keterkejutannya. Ia menatap lekat-lekat bungkusan di tangan Xi Jingfei. Ia benar-benar melihat tanaman hijau asli di dunia nyata. Terlebih lagi, tanaman di tangan Xi Jingfei tampak begitu segar dan bugar, bahkan jauh lebih sehat daripada yang pernah ia lihat di video.
"Jingfei, dari mana kau mendapatkan tanaman ini?" bisik Lin Zheng ke telinga Xi Jingfei.
"Ini hadiah dari seorang penyiar untuk kakakku."
"Penyiar? Penyiar mana yang begitu murah hati? Cepat ceritakan padaku."
Ketiganya berjalan menuju asrama sambil mendengarkan Xi Jingfei menceritakan bagaimana kakaknya memberikan hadiah lebih dari sepuluh juta di ruang siaran seorang penyiar.
"Jadi, hanya dengan memberikan hadiah sepuluh juta, penyiar itu akan mengirimkan ini?" Jiang Sinian yang sedari tadi diam tiba-tiba menyela, samar-samar terlihat antusias. Bagi mereka, sepuluh juta hanyalah nominal kecil untuk mendapatkan tanaman asli, sungguh sangat sepadan.
"Itu aku tidak tahu. Kau bisa mencobanya sendiri."
"Di platform mana penyiar itu siaran? Kirimkan tautannya padaku."
Xi Jingfei mengirimkan akun Chu Qingyan kepada kedua temannya dan mengatur pengingat khusus. Jika penyiar tersebut melakukan siaran, ia akan mendapatkan notifikasi otomatis.
Asrama ketiganya berdekatan, mereka pun masuk ke asrama Xi Jingfei. Xi Jingfei meletakkan bungkusan itu di atas meja dan membukanya dengan sangat hati-hati.
Satu tanaman dengan buah berwarna emas terpampang nyata di depan mata mereka. Mereka menatapnya tanpa berkedip, bahkan bisa merasakan aroma harum yang terpancar dari tanaman tersebut. Saat itu juga, mereka merasakan kenyamanan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, seolah-olah ada seorang betina yang sedang menenangkan kesadaran mental mereka.
"Jingfei, buah apa yang ada di atasnya ini? Apa bisa dimakan?"
Melihat buah-buah tersebut, mereka tidak bisa menahan diri untuk menelan ludah. Mereka ingin mencicipinya.
"Aku juga tidak tahu, biar kutanyakan dulu."
Xi Jingfei masuk ke akunnya dan membuka percakapan dengan akun "Ikan yang Tenggelam".
*Bintang Pertama Antariksa:* [Penyiar, apakah buah di tanaman ini bisa dimakan? /mata bintang]
Ia juga melampirkan foto yang baru saja diambil. Ia tidak yakin apakah pesan itu akan segera dibaca karena akun penyiar tersebut sedang tidak daring.
*Ikan yang Tenggelam:* [Bisa dimakan. Setelah dipetik, cuci bersih dan bisa langsung dimakan.]
*Bintang Pertama Antariksa:* [Baiklah /patuh]
"Penyiar bilang bisa dimakan. Kalian mau mencicipinya?"
"Ya, tentu saja!"
Keduanya mengangguk serempak. Karena bisa dimakan, mereka tentu tidak akan melewatkan kesempatan ini. Mereka sudah lama ingin mencobanya.
Buah yang menggantung di tanaman itu tampak cukup banyak, memenuhi seluruh tanaman. Xi Jingfei memetik enam buah dan membaginya rata untuk mereka bertiga.
Tak sabar untuk mencucinya, mereka tetap memakannya dengan prinsip "sedikit kotor tidak apa-apa". Mereka memasukkan buah itu ke dalam mulut.
Tiga pasang mata seketika berbinar. Rasa asam manis memenuhi indra perasa mereka. Dengan perasaan puas yang luar biasa, mereka memejamkan mata dan memasukkan buah terakhir ke dalam mulut.
Entah itu hanya perasaan mereka atau bukan, mereka merasa kesadaran mental mereka menjadi jauh lebih jernih.
"Jingfei, apakah boleh..."
"Tidak bisa. Ini milik kakakku, aku harus mengirimkannya kembali padanya."
Xi Jingfei masih ingat bahwa ini adalah milik kakaknya, sehingga ia memotong perkataan Lin Zheng. Setelah itu, ia memotret tanaman tersebut dan mengirimkannya kepada sang kakak.
*Ingin Terbang:* [Kak, ini tanaman hijau asli. Benar-benar asli!]