Bab 48: Klarifikasi
Konferensi pers segera dimulai. Song Nanzhi berdandan khusus hari ini dan mengenakan pakaian yang pantas untuk menghadiri acara tersebut.
Konferensi pers diadakan di sebuah hotel di bawah naungan Grup Jian.
Saat Song Nanzhi memasuki ruangan, banyak wartawan yang telah lama menunggu.
Kilatan lampu kamera langsung mengarah ke arah Song Nanzhi, mengabadikan setiap gerakannya karena mereka berharap menjadi yang pertama mendapatkan berita terbaru.
Para hadirin di area tempat duduk berbisik-bisik riuh.
"Menurutmu, bagaimana bisa Song Nanzhi begitu berani? Dia bahkan terseret dalam kasus penyelundupan."
"Betul sekali, aku rasa kejayaan turun-temurun Grup Jian akan hancur di tangannya."
"Kudunjukan wanita ini punya hubungan gelap dengan salah seorang eksekutif tinggi di Grup Jian."
"Ah, benarkah itu? Kenapa aku tidak tahu?"
"Cara orang-orang kaya bermain memang di luar dugaan kita..."
Song Nanzhi berdehem pelan, lalu berbicara dengan nada datar ke arah mikofon, "Terima kasih banyak kepada semuanya yang telah hadir di konferensi pers saya. Saya harap kita bisa saling menjaga kesopanan dalam berdiskusi. Jika ada yang menyebarkan rumor sembarangan, saya tidak akan ragu meminta penasihat hukum saya untuk mengambil tindakan."
Para wartawan yang tadinya sibuk bergosip itu langsung terdiam seketika.
Mereka datang untuk meliput berita, bukan untuk menyebar fitnah.
Semua orang di industri ini tahu bahwa departemen hukum Grup Jian sama sekali bukan pajangan.
Konferensi pers dijadwalkan mulai pukul setengah sepuluh. Song Nanzhi melirik jam tangannya, waktunya sudah hampir tiba.
Song Wanyin sangat ingin menyaksikan bagaimana Song Nanzhi diinjak-injak hingga tak berdaya. Setelah menyamar, ia bergegas menuju lokasi konferensi pers.
Tiba di sana, acara baru saja dimulai.
"Semua, Grup Jian telah menyita sumber daya publik, dan saya merasa sangat menyesal atas hal itu."
"Di sini saya ingin mengklarifikasi satu hal: saya, Song Nanzhi, tidak pernah melakukan tindakan melanggar hukum, apalagi menyelundupkan barang apa pun."
Begitu Song Nanzhi melontarkan kalimat tersebut, ruangan langsung gempar.
Pertanyaan demi pertanyaan dari para wartawan dilontarkan secara bertubi-tubi.
"Anda bilang tidak menyelundupkan apa pun, tetapi bukti-bukti sebelumnya telah dibeberkan oleh rekan-rekan media. Bagaimana Anda menjelaskan hal ini?"
"Mengenai dokumen-dokumen yang bocor itu, apakah Anda merasa ada kejanggalan?"
Song Nanzhi sebenarnya sudah sejak tadi memerhatikan keberadaan Song Wanyin yang duduk di sudut ruangan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis saat ia menjawab, "Menjelaskan?"
"Hari ini saya datang memang untuk menjelaskan masalah ini," ujar Song Nanzhi dengan suara lembut.
Pernyataan itu berhasil memancing rasa penasaran para wartawan sepenuhnya. Mereka sangat ingin tahu bagaimana sang pemeran utama wanita akan menjelaskan situasi tersebut.
Mungkinkah ada titik terang? Mungkinkah ia benar-benar mampu membalikkan keadaan?
"Kalau begitu, cepat jelaskan!"
Song Wanyin sudah membayangkan adegan di mana wanita itu dicaci maki, sambil mencemooh dalam hati bahwa para wartawan ini telah diperalat sebagai senjatanya untuk melampiaskan amarah.
"Aku tidak pernah melakukan penyelundupan. Tuduhan penyelundupan yang diarahkan padaku ini sepenuhnya adalah fitnah dari orang-orang yang berniat jahat."
Apa yang diucapkan oleh Song Nanzhi membuat para wartawan terkejut.
"Fitnah? Hal sebesar ini pun bisa difitnah?"
"Jika Anda bilang difitnah, apakah Anda punya bukti atas tuduhan itu?"
"Jangan coba-coba mengelabui kami dengan alasan fitnah."
Justru tanggapan seperti inilah yang ditunggu-tunggu oleh Song Nanzhi.
Ia mendekatkan bibirnya ke mikrofon, bibirnya yang merah terkatup rapat sebelum akhirnya berucap, "Kalau begitu, mari kita saksikan bersama-sama tayangan videonya."
Detik berikutnya. Layar LED di aula mulai menampilkan sebuah video.
Di awal video, gambarnya tampak agak kabur, tetapi beberapa saat kemudian menjadi jernih, dan percakapan di dalamnya terdengar dengan sangat jelas.
"Kita bisa menggunakan barang berkualitas rendah untuk dijadikan bukti seolah-olah Song Nanzhi melakukan penyelundupan, lalu menjebaknya agar reputasinya hancur total."
"Kakak Zhou Yan, kali ini kamu pasti akan membantuku, kan?"
"Kakak Zhou Yan, Song Nanzhi pasti akan dijebloskan ke penjara kali ini."
Berbagai kalimat penuh niat jahat itu bergema di dalam ruangan konferensi pers yang tadinya sunyi. Tayangan di layar lebar tersebut membuat mereka terpaku kaget.
Seorang wartawan membelalakkan matanya dan berkata, "Ini mengerikan sekali. Ternyata kenyataannya seperti ini, kita semua telah memfitnah Song Nanzhi."
Karena wajah Song Wanyin terekam jelas di dalam video, banyak orang yang langsung mengenalinya.
"Bukankah itu istri dari Presiden Direktur Grup Gu?"
"Presiden Direktur Grup Gu itu bukankah Gu Mingzhe yang baru-baru ini masuk penjara gara-gara masalah standar kualitas produk?"
Begitu ucapan itu terlontar, reputasi Song Nanzhi langsung berbalik seratus delapan puluh derajat dalam sekejap.
Terlebih lagi, Song Nanzhi telah mengantongi bukti fisik yang membuktikan bahwa dirinya bukanlah pelaku penyelundupan, melainkan korban penjebakan.
Song Wanyin menyaksikan sendiri adegan di mana sang pemeran utama wanita membersihkan namanya. Ia duduk mematung di tempatnya, sama sekali tidak menyangka bahwa Zhou Yan akan berkhianat.
Amarah yang bergemuruh di dadanya nyaris membakar sisa-sisa kewarasannya, namun ia memaksa dirinya untuk tetap tenang menghadapi semua ini.
Ia juga merasa sangat bersyukur karena hari ini datang dengan menyamar secara total.
Pakaiannya tertutup rapat, seharusnya tidak ada seorang pun yang mengenalinya.
"Hati manusia zaman sekarang benar-benar sangat keji."
"Aku tidak menyangka mental Wakil Direktur Song begitu kuat. Menghadapi fitnah sebesar itu, dia bisa tetap tenang dan bahkan mengumpulkan bukti."
Seketika itu juga, pujian demi pujian mengalir deras untuk Song Nanzhi.
Keesokan harinya, setelah konferensi pers usai, tajuk utama berita di internet pun berubah.
[Pembalikan Keadaan, Kabar Terbaru dari Grup Gu.]
[Alasan di Balik Retaknya Hubungan Saudari Keluarga Song.]
Kasus ini akhirnya usai begitu saja, dan Song Nanzhi berhasil keluar dari badai skandal tersebut tanpa cacat.
Di ruang kerja utama, Jian Chenzhou menerima sebuah panggilan telepon dari Song Nanzhi.
"Direktur Jian, apakah Anda punya waktu luang? Saya ingin mentraktir Anda makan."
Melihat pria itu tidak langsung menjawab, Song Nanzhi buru-buru menambahkan, "Direktur Jian, masalah fitnah yang menimpa saya sudah beres. Anda telah banyak membantu saya, jadi sebagai bentuk terima kasih, saya ingin mengajak Anda makan malam."
"Hmm, ada waktu. Kirimkan saja waktu dan tempatnya kepadaku," jawab Jian Chenzhou setelah terdiam selama dua detik.
"Baik."
Alasan Jian Chenzhou menunggu selama dua detik sebelum menjawab adalah agar Song Nanzhi tidak merasa bahwa dirinya terlalu cepat menyetujui ajakan tersebut.
Qin Chuan sedang duduk di sofa sambil membawa koran dan berkata sambil tersenyum, "Ada apa, hari ini kedatangan janji dengan seorang wanita?"
"Rupanya ada orang yang sudah mulai peka."
"Luar biasa sekali, Direktur Jian."
Qin Chuan menggoda Jian Chenzhou dengan nada bercanda, "Batang besi sepertimu akhirnya mau berbunga juga."
"Perlu kuajak serta?" tanya Jian Chenzhou bernada santai.
"Untuk apa mengajakku? Mengganggu dunia berdua kalian? Kalau aku benar-benar ikut, bukankah kau akan langsung menendangku keluar?" Qin Chuan buru-buru melambaikan tangan menolak.
"Kalau begitu, aku tidak akan berlama-lama di sini. Persiapkan dirimu baik-baik untuk kencanmu."
Jian Chenzhou juga tidak berniat menahannya, "Baiklah."
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Usai berkata demikian, Qin Chuan meraih tas kerjanya yang ditaruh di atas meja dan bersiap melangkah keluar.
"Qin Chuan, terima kasih banyak sudah membantuku sejauh ini."
"Kita sudah berteman baik, tidak perlu sungkan."
Setelah menyelesaikan dokumen hari ini, Jian Chenzhou melirik ponselnya dan mendapati Song Nanzhi telah mengirimkan alamat restoran tempat mereka akan makan.
Tempat itu adalah sebuah restoran baru yang lokasinya tidak jauh dari kantor, persis di kawasan distrik komersial.
Jian Chenzhou mengganti pakaiannya dengan gaya yang lebih santai; ia tidak ingin tampil terlalu formal di tempat umum seperti itu agar tidak terlalu mencuri perhatian.
Pukul setengah tujuh malam, jam kerja kantor usai, dan suasana hati Jian Chenzhou terasa begitu ringan tanpa alasan yang jelas.
Hanya saja, ia pasti akan jauh lebih bahagia jika tidak melihat keberadaan Zhou Yan di tempat makan nanti.