Bab 1 Terlahir Kembali sebagai Putri Bangsawan yang Kejam
Rumah sakit. Kamar mayat.
Pintu yang tertutup rapat terbuka, diikuti suara isak tangis dari luar.
"Tingting, Tingting-ku sayang, hu hu hu..."
Seorang wanita cantik masuk dengan langkah terhuyung-huyung sambil terisak, lalu langsung menerjang ke satu-satunya ranjang di sana yang ditutupi kain putih.
Seseorang yang mengikuti di belakangnya membujuk dengan cemas, "Nyonya Gu, harap bersabar. Nona Gu tewas tertabrak mobil, kondisinya cukup mengenaskan, sebaiknya Anda jangan melihatnya..."
"Bangun, aku ingin melihat Tingting-ku!" Nyonya Gu menerjang ke sisi ranjang, menahan duka, lalu menyibak kain putih itu. Tiba-tiba, ia beradu pandang dengan sepasang mata.
"Ah!"
Nyonya Gu menjerit kaget dan terhuyung ke belakang. Jika orang di belakangnya tidak sigap menahan, ia pasti sudah jatuh terduduk.
Gu Ting duduk dengan bingung. Ia merasakan ada benda keras di telapak tangannya. Tanpa sadar ia membuka genggaman tangannya, ternyata itu adalah sebuah giok yang berlumuran darah.
Ia sedikit mengernyit, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling, melihat dua orang yang wajahnya sudah memucat pasi karena ketakutan.
"Siapa kalian? Dan di mana ini?"
Suara dingin itu sarat dengan kebingungan yang mendalam.
Jelas-jelas ia telah meledakkan diri demi menyeret roh jahat ke alam baka, mengerahkan seluruh tenaga demi meloloskan seuntai kesadaran diri, dan terpaksa masuk ke dalam tidur panjang. Mengapa saat membuka mata, segala sesuatu di hadapannya terasa begitu asing dan aneh?
"Han... hantu..."
Pria yang masuk bersama Nyonya Gu gemetar ketakutan hingga keringat dingin membanjiri tubuhnya.
Ia sendiri yang menyaksikan Gu Ting dibawa keluar dari ruang gawat darurat dengan tubuh berlumuran darah sebelum dinyatakan meninggal dunia. Seseorang yang sudah dipastikan mati kini hidup kembali; jika bukan hantu, lalu apa namanya?
Nyonya Gu, yang tadinya dirundung duka, berubah drastis. Ia menatap Gu Ting dengan tatapan penuh kebencian dan kekecewaan, lalu bertanya dengan suara tajam, "Gu Ting, sandiwara apa lagi yang sedang kau mainkan? Kau pikir dengan berpura-pura mati dan amnesia kami akan memaafkanmu? Buang jauh-jauh pikiran itu! Bahkan jika nanti kau benar-benar mati, aku tidak akan sudi melirikmu lagi!"
Setelah berkata demikian, ia berbalik pergi dengan penuh amarah. Namun, saat melangkah keluar dari kamar mayat, ia diam-diam mengembuskan napas lega.
Syukurlah dia tidak mati.
Bagaimanapun juga, seburuk apa pun Gu Ting, dia tetaplah putrinya. Meski kecewa luar biasa hingga mengusirnya dari rumah agar hidup sendiri, Nyonya Gu tetap tidak ingin putrinya mati.
Setelah Nyonya Gu pergi, pria tadi tidak berani tinggal sendirian. Dengan pandangan ngeri ke arah Gu Ting yang wajahnya berlumuran darah, ia segera berbalik dan berlari menyusul.
Dalam sekejap, Gu Ting tinggal sendirian di kamar mayat. Namun, ia tidak sempat memikirkan hal itu karena serangkaian ingatan asing mulai membanjiri benaknya, membuat kepalanya terasa berat dan nyeri.
Beberapa menit kemudian, setelah mencerna ingatan tersebut, ia akhirnya tahu mengapa dirinya berada di sini.
Ia terlahir kembali. Lebih tepatnya, karena seuntai kesadaran terakhirnya tersimpan dalam giok itu, ia bangkit kembali dalam tubuh gadis asing ini.
Pemilik tubuh asli ini juga bernama Gu Ting. Awalnya ia adalah putri keluarga Gu, namun perangainya sangat buruk. Hari-harinya hanya diisi dengan membuat onar dan masalah. Ia bak tumor di kalangan keluarga kaya, tak ada yang menyukainya.
Meski wataknya begitu buruk, keluarganya selalu memaklumi. Setiap kali ia membuat masalah, keluarganya selalu membereskan kekacauannya, yang justru membuat sifat angkuh dan sombong pemilik asli tubuh ini semakin menjadi-jadi.
Hingga akhirnya, saat kakak laki-lakinya menikah dan kasih sayang keluarga terbagi kepada kakak ipar dan keponakannya, ia tidak bisa menerima hal itu. Ia mulai melancarkan berbagai rencana jahat untuk menyasar kakak ipar dan keponakan kecilnya.
Awalnya, keluarga masih mempedulikan perasaannya dan menghabiskan uang serta tenaga untuk membujuknya. Namun, seiring dengan sifatnya yang terus-menerus membuat rumah tangga tidak tenang, keluarga mulai bersikap tegas.
Namun, watak pemilik tubuh asli sudah telanjur rusak. Setiap kali dikritik, kebenciannya terhadap kakak ipar dan keponakannya justru kian membesar. Akhirnya, ia melakukan kesalahan fatal dengan merusak mobil kakak iparnya. Saat kakak iparnya membawa keponakannya pergi, rem mobil itu blong dan langsung terjun ke dalam air.
Beruntung pertolongan datang tepat waktu dan keduanya selamat, namun keponakannya yang berusia tiga tahun mengalami radang paru-paru dan radang otak akibat kemasukan air, hingga jatuh koma dan menjadi pasien vegetatif dengan peluang sadar yang sangat tipis.
Kakak iparnya yang dilanda duka mendalam sempat mencoba bunuh diri sebelum diselamatkan oleh suaminya. Setelah sadar, ia bersikeras menceraikan suaminya dan menjauh dari Gu Ting. Kakaknya yang terpukul hebat sempat berniat membunuh Gu Ting dengan pisau.
Terakhir, atas cegahan orang tua mereka, sang kakak menjatuhkan pisau itu dan menyatakan bahwa ia tidak lagi memiliki adik seperti Gu Ting. Keluarga pun benar-benar putus asa. Agar tidak hancur karena ulahnya, mereka mengusir Gu Ting dari rumah.
Karena reputasinya yang buruk, semua orang yang mengenalnya justru berharap ia mati. Tak ada satu pun orang yang bisa diandalkan. Dalam tekanan ganda, ia berjalan dengan pikiran kacau, menerobos lampu merah, dan tertabrak truk hingga tewas di tempat.
Setelah mencerna ingatan tersebut, ekspresi Gu Ting terasa kaku.
Sebagai pihak luar yang menyaksikan perbuatan pemilik tubuh asli, ia pun ikut merasa geram. Keluarga pemilik tubuh asli sangat sabar, bahkan bisa menahannya hingga sejauh ini sebelum mengusirnya.
Kemudian ia menyadari sesuatu: pemilik tubuh asli sudah mati, dan sekarang dirinyalah yang harus menanggung semua makian ini!
Gu Ting seketika merasa, mungkin lebih baik jika ia terus tertidur saja. Siapa pun yang mau menerima kekacauan ini silakan, yang jelas ia tidak mau.
Namun, saat ia mencoba mengembalikan kesadarannya ke dalam giok, terdengar bunyi "prak" yang nyaring. Giok itu hancur berkeping-keping.
Gu Ting terdiam.
Sudahlah, jika takdir sudah menentukan demikian, ia harus menerimanya.
"Kepala Bagian, ini benar. Wanita yang tewas kecelakaan itu, dia benar-benar hidup kembali!"
"Saya tidak berbohong, saya dan Nyonya Gu melihatnya sendiri. Dia ada di dalam sekarang, kalau tidak percaya, lihat saja dengan mata kepala sendiri!"
Pria itu kembali bersama beberapa orang.
Gu Ting tidak ingin dijadikan objek penelitian sebagai monster. Ia merasakan tubuhnya tidak mengalami masalah berarti selain rasa lemas—kemungkinan energi spiritual terakhir dalam giok telah memperbaiki tubuh yang rusak itu, itulah sebabnya giok tersebut hancur sepenuhnya.
Ia diam-diam turun dari ranjang dan bersembunyi di balik pintu.
Saat orang-orang itu masuk, ia dengan sangat cepat melesat keluar. Kedua orang itu sama sekali tidak menyadarinya.
"Eh, ke mana orangnya?"
Kedua orang yang masuk menatap ranjang kosong itu dengan kaget.
Pria itu menunjuk ke arah ranjang yang kosong dengan penuh semangat, "Kepala Bagian, sudah saya bilang, dia benar-benar hidup!"
Reaksi Kepala Bagian justru lebih heboh, "Cepat cari! Baik orangnya maupun mayatnya, harus ditemukan!"
Seseorang menghilang begitu saja dari kamar mayat rumah sakit, ini adalah masalah besar yang harus dipertanggungjawabkan!
Setelah Kepala Bagian memberi perintah, seluruh petugas keamanan rumah sakit datang ke lantai kamar mayat untuk mencari orang.
Namun, meski mereka telah menggeledah kamar mayat dan memeriksa lantai atas berkali-kali, mereka tetap tidak menemukan bayangan Gu Ting.
...
Gu Ting kini berdiri di depan cermin kamar kecil, menatap wajah di cermin dengan pandangan tajam.
Wajah bersih yang masih basah oleh tetesan air itu ternyata sama persis dengan wajah aslinya!
Selain tampak sedikit kekanak-kanakan, kini karena jiwanya telah berpindah ke dalam tubuh ini, auranya menjadi jauh lebih anggun dan berwibawa.
Gu Ting meletakkan tangan di permukaan cermin dengan perasaan campur aduk.
Jika bukan karena ia tidak bisa merasakan energi spiritual sedikit pun di dalam tubuhnya dan merasa sangat lemah, ia pasti sudah mengira bahwa ini adalah tubuh aslinya.
Ia percaya pada hukum karma. Karena ia terlahir kembali di dunia ini, pasti ada sesuatu yang harus ia selesaikan.
Ya sudahlah, biarkan saja mengalir apa adanya.
Namun, untuk saat ini, ia harus terlebih dahulu menyelesaikan kekacauan yang ditinggalkan oleh pemilik tubuh asli ini...